21/04/14

Rasa sakitku

Guys, aku pengen cerita tentang isi curahan hatiku selama ini. Beberapa minggu ini aku galau banged menjelang Happy anniversaryku 1 st. Tepatnya adalah hari ini, 21 April 2014. Yah, bisa dibilang happy failed anniversary sih. Malu sebenarnya, kisah cinta yang selama ini kubanggakan jadi kandas ditengah jalan. Malam sebelum tanggal hariku jadian tahun dulu dia ke Banjarmasin (Kotaku tinggal). Aku kira dia cuma main-main doang kesini, ternyata esok harinya dia menyatakan rasa cintanya kepadaku. Sedikit tidak percaya karena begitu syok dengan tampang tanpa ekspresi. Tapi, jalinan kisah cinta itu juga berlalu dengan cepat. Dia memutusiku tanpa sebab yang pasti, tanpa alasan dan penjelasan. Hingga sampai saat ini aku tidak mengerti mengapa jadi dia mutusin aku :'(, Mencoba untuk menunggu penjelasan darinya hingga waktupun tiba dimana untuk yang ketiga kalinya kami bertemu dulu datang dengan sangat cepat. Ya, hari ini tiba. Diapun tak kunjung tiba. Mungkin ini memang jalan yang terbaik untuk kami berdua. Semoga kamu bisa mendapatkan seseorang yang bisa membahagiakanmu kelak, begitupun sebaliknya untuk aku. Mungkin udah saatnya untuk aku move on dan membenah diri untuk lebih baik lagi, fokus dengan skripsiku yang tinggal menghitung beberapa bulan lagi untuk maju sidang serta fokus dengan penyakitku ini. Ya, penyakit yang menyerang tubuhku dalam 2 bulan ini. Semenjak kepergian kakek, akupun sakit-sakitan, daya tahan tubuhku menurun dan drop untukyang kesekian kalinya. Yang aku bingungkan, kenapa benjolan di leher ini tidak sembuh-sembuh dan malah bertambah disisi leher bagian lain. Aku kira itu hanya masuk angin biasa. Angin yang membatu karena keseringan masuk angin. Tapi ternyata selama seminggu benjolan itu tidak hilang-hilang. Akupun mengadu kepada mama, menanyakan hal itu. Selama 3 minggu, benjolan itu tidak kunjung sembuh, padahal sudah dibawa ke tukang urut. Tukang urut itu bilang benjolan itu adalah angin yang membatu. Aku berpikir dalam hati, mungkin karena aku keseringan begadang mengerjakan skripsi. mencoba untuk berpikir positif. Selang waktu beberapa hari, benjolan itu terasa sakit disalah satu sebagiandari ketiga benjolan tersebut. Badanku panas dan menggigil. Mamapun membawa pergi ke dokter dekat rumah. Kebetulan dokter itu adalah dokter umum yang biasa melayani orang sakit disekitar tempat tinggalku. Dia adalah Dokter Budi. Setelah diperiksakan kata dokter benjolan ini bukan angin, melainkan infeksi. Dokter bilang semoga ini bukan infeksi paru-paru. Dokterpun memberikan resep obat antibiotik untuk menghilangkan rasa sakit yang ada di leheri ini. Dokter bilang kalo aku minum antibiotik ini sakitnya hilang, berarti aku tidak kenapa-napa, tapi kalau misalkan sakit ini belum reda juga berarti ada infeksi lain yang menyerang leherku. Ya Allah, betapa sakitnya aku mendengar penjelasan dokter. Tapi, aku tidak mau kalah dengan rasa sakit ini, aku terus-menerus untuk minum obat, berusaha untuk sembuh. Aku berpikir, dokter itu bukan dokter ahli spesialis dalam, beliau hanya dokter umum.Tapi nyatanya, rasa sakit ini tak kunjung reda. Mamapun membawaku ke dokter umum lagi, tapi bukan dokter yang kemarin, melainkan dokter Haitami. Setelah diperiksa, dokterpun bilang bahwa aku harus di rontgen dibagian thorax san pulmo. Dokter juga menanyakan apakah di rumah ada yang batuk ? Akupun bilang tidak ada. Kata dokter takutnya ini adalah infeksi paru-paru yang menyerang kelenjar di leherku. Mamapun menanyakan, kelenjar apa yang dimaksud beliau. Beliau mengatakan bahwa itu adalah kelenjar getah bening. Seperti biasa yang dilakukan oleh dokter-dokter adalah memberikan resep obat dan surat pengantar untuk rontgen. Akupun tak kuasanya menahan tangis dan kamipun pamit untuk pulang. Subhanallah setelah nebus obat di apotek, ternyata obat yang dianjurkan oleh Dokter Haitami itu rasanya pahit banged. Baru kali ini seumur hidup minum obat sepahit ini. Setelah seminggu minum obat, rasa sakitpun juga tak kunjung reda. Akhirnya mama membawaku untuk rontgen, dan hasil rontgennyapun normal. Kamipun bingung, sudah banyak minum obat antibiotik tapi kenapa rasa sakitnya belum kunjung reda. Akhirnya mama untuk yang ketiga kalinya membawaku ke dokter. Tapi, kali ini beda. karena dokter yang kami kunjungi untuk berobat adalah Dokter spesialis dalam, namanya Dokter Wiwit. Subhanallah antriannya naudzubillah, begitu sabarnya mama membawaku untuk berobat agar lekas sembuh. Pertanyaan Dokter Wiwit sama persis dengan Dokter Haitami, apakah ada yang batuk-batuk di rumah ? untuk yang kedua kalinya kami katakan "TIDAK". Dokter bilang benjolan yang ada di leher ini disebabkan karena virus yang menyerang kelenjar dan paru-paruku. Namanya Limfadensitis Tuberkulosis. Dokter bilang itu adalah kelenjar TBC. Lagi-lagi aku mengeluarkan air mata yang tak tahan terbendung dipelupuk mata. Aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan dokter. tapi, Dokter Wiwit adalah dokter spesialis dalam. Tidak mungkin rasanya dokter berbohong dengan nada suara setegas itu untuk memfonis seorang pasein. Kata dokter hasil rontgen itu kebanyakan normal, karena penyakit ini susah terdeteksi. Dokterpun memberikn resep obat dan memberikan surat rujukan ke Rumah Sakit Sari Mulia untuk memeriksakan benjolan yang ada di leher ini. Kata dokter kelenjarnya ini harus segera diambil untuk mengetahui apakah penyakitku ini spesifik atau non spesifik. Bila benar-benar positif bahwa aku terserang penyakit itu, maka aku haru di operasi. kelenjarku harus diangkat Aku benar-benar tidak mengerti. Speechleess...
Seminggu minum obat, rasa sakitnya belum kunjung reda. Sakitnya ketika aku mulai lelah, napsu makanku selalu hilang ketika merasakan sakit itu. Aku selalu berdoa agar penyakit ini bisa segera disembuhkan. :( Tepat 2 bulan aku menderita sakit ini. Kemarin mama membawaku ke RS atas dasar dari rujukan Dokter Wiwit. Dan hari ini adalah hari dimana aku harus periksa, dan kelenjarku diambil untuk didiagnosa oleh bagian Laboratorium disana. Deg-degan rasanya ketika dokter harus mengambil kelenjar di leher ini dengan jarum suntik. Sungguh sakit sekali. Apalagi tidak ada mama disampingku saat itu, karena aku harus masuk sendirian ke dalam ruangan. Dokter mencoba untuk meyakinkan aku bahwa ini tidak sakit, hanya seperti sakit digigit semut. Aku hanya terdiam dan menoleh ke arah saku baju dokter. Namanya adalah Dokter Ika. Hari ini aku menahan dua rasa sakit. Yang pertama rasa sakitku karenamu dan yang kedua rasa sakit tentang penyakitku. Dokter Ika bilang aku belum boleh pulang, karena dokter mau lihat sel-selnya dulu apakah tadi dapat terambil atau tidak ketika di check nanti. Setelah menunggu beberapa menit, akupun diperbolehkan untuk pulang dan mengambil hasil diagnosanya jam 7 malam. Aku tidak diperbolehkan mama untuk kelelahan lagi dan harus banyak istirahat. aku mikir, kalau aku istirahat terus, bagaimana dengan skripsiku yang hari senin depan harus dikonsulkan? :( Seminggu itu waktuyang sangat cepat untuk deadline Bab 4 :'( . 
Malampun tiba, aku mengurungkan niatku untuk ikut pergi dengan mama ke RS untuk ngambil hasil diagnosanya. Karena aku takut melihat kenyataan yang nantinya akan terjadi. Aku berdoa semoga nanti apapun hasilnya aku masih tetap bisa tersenyum. Dan ternyata setelah dibaca, aku positif terkena penyakit Limfadensitis Tuberkulosa. Aku hanya bisa menangis dalam hati. Karena aku janji kepada diriku sendiri untuk tetap kuat menjalaninya dihadapan mama. Setelah ini tidak tahu apa yang harus dilakukan, karena aku disuruh untuk kembali lagi ke Dokter wiwit untuk menanyakan tindakan apa yang setelah ini dilakukan. :(

21-04-2014



Tidak ada komentar:

Posting Komentar