04/01/14

Bukan Inginku


Dear blogger…
Pedih, sakit, kecewa…
Hanya itulah yang tersisa. Kenanganpun tak mampu mengalahkan rasa pedih, sakit dan kecewa yang kau percikkan untukku. Seseringkali aku bertanya dalam hati. Seseringkali aku menghela napasku dalam-dalam. Seseringkali ku usap air mata yang mengalir di pelupuk pipi dengan kedua tanganku sendiri. Seseringkali aku menyalahkan waktu dan keadaan yang sama sekali tidak bersalah. Seseringkali aku menutupi kesedihan ini dengan tawa dan candaku. Seseringkali aku menangis dalam diam. Seseringkali aku merindumu dan seraya memanggil namamu. Seseringkali aku berdoa agar kau kembali kepadaku. Semua yang aku lakukan berujung sia-sia. Tak ada jawaban darimu. Sekedar untuk menoleh dan menanyakan keadaankupun kau tak peduli. Mungkin kau lebih memilih sahabat-sahabat yang selalu ada untukmu. Sahabat yang selalu ada disampingmu. Sahabat yang selalu kau ceritakan. Sahabat yang selalu kau banggakan. Sahabat yang lebih mengenalmu terlebih dahulu sebelum kita berdua dipertemukan. Ya, mereka yang sangat kau sayangi. Kini aku bukanlah seseorang yang lebih dimatamu, atau aku memang bukan seseorang yang lebih dimatamu. Entahlah. Kamu memang bukan satu-satunya milikku. Jadi, aku tidak berhak melarangmu untuk memilih dan mengambil keputusan. Sangat ku hargai keputusanmu. Tapi, bukan seperti ini cara yang aku mau. Berikanku alasan yang jelas mengapa kau pergi jauh dn meninggalkan hatiku…