Hai guys, lama tidak bersua. Bagaimana kabar kalian ? Aku harap baik-baik saja.
Blog ini sekarang jadi tidak terjamah lagi semenjak sibuk garap skripsi. Sudah lama tidak nulis dan cerita ke kalian guys. Selama 3 bulan sampai dipenghujung akhir Maret ini banyak hal yang ku lalui. Galau, sedih, suka, duka, tangis, dan tawa gembira yang aku rasakan. Semoga kalian tidak bosan mendengarkan curahan hatiku.
Guys, aku kehilangan banyak sekali orang yang aku sayangi. Mulai dari pacar yang tahun lalu menemaniku hingga keluarga dan sahabatku. Kurang lebih satu bulan ini kakekku berpulang ke Rahmatullah, aku tidak bisa menggambarkan betapa kehilangannya aku, hingga sampai saat ini aku masih teringat kenangan-kenanganku bersama kakek. Beliau adalah seseorang yang sangat kuat, hingga sampailah takdir untuk memisahkan kami semua. Beliau tidak pernah mengeluh, bahkan detik terakhirku bersama beliaupun, beliau tidak ingin mengeluhkan sakit yang dideritanya. Kakek sudah tua, maklum sakit-sakitan. Tapi, kakek bukan orang yang ingin menyusahkan orang-orang yng didekatnya. Yang aku sedihkan kenapa kakek harus pergi begitu cepatnya ? kenapa harus dalam keadaan yang seperti itu ? kenapa kakek meninggal di saat anaknya sedang tidak berada disisi beliau ? Seandainya waktu bisa berputar, aku ingin merawat kakek lebih lama lagi, aku menyesal karena aku terlalu sibuk dengan kuliahku di semester akhir ini, sampai-sampai aku tidak terpikir bahwa kakek perlu perhatian lebih di saat menjelang akhir usianya.
Banyak hal yang aku takutkan ketika kakek ditinggal pergi nenek yang selama ini kami rawat dirumahku selama berbulan-bulan. Semenjak itu kakek mulai ngelantur bicara, walau memang harus dimaklumi fungsi organ ditubuh kita makin tua makin sulit untuk berfungsi. Selain itu, tanggal 20 Januari 2014 kemarin, kakek baru saja kehilangan rumahnya. Rumah kakek di kampung sana kebakaran, dan parahnya lagi pada saat kejadian itu, kakek dan bue (adik kakek/ kakek anum) sedang berada di rumah itu. Panjang ceritanya. :( Alhamdulillah kakek dapat diselamatkan, tanpa ada luka atau cacat sedikitpun, berbeda dengan bue yang terkena luka bakar akibat api yang menyerang ke tubuhnya. Hanya saja rumah yang selama ini bertahun-tahun kakek diami dengan nenek ludes di lahap api. Tapi, aku masih bersyukur karena kedua kakekku itu masih hidup dan selamat. Semenjak kejadian itu, aku semakin ekstra untuk menjaga kakek, karena melihat dari psikis kakek yang terguncang karena harta benda sudah tidak dapat terselamatkan lagi, untuk itu aku, abah dan mama berusaha sekuat mugkin agar kakek tidak mengingat kejadian itu lagi. Namun, kakek tidak henti-hentinya bersyukur karena masih bisa diberikan kesempatan untuk berkumpul lagi bersama kami di rumah (Banjarmasin).
Dua hari sebelum kakek meninggal, kakek sakit, tapi waktu itu aku tidak sedang berada di rumah full seharian. Kakek sedang diare, hingga disaat kakek sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri, kakekpun tidak dapat menahan dan puff di lantai. Aku memang tidak menyaksikan kejadin itu, karena waktu itu aku sedang tidak berada full seharian di rumah. Yang aku banggakan, aku masih punya abah yang bertanggung jawab terhdap orangtua semata wayangnya itu. Abahlah yng membersihkan kotoran dari tubuh kakek. Selama ini abahlah yang merawat kakek dan nenek di rumah selama 2 tahun belakangan ini. Karena abah tidak punya sanak saudara, jadi abah sendiri yang merawatnya dengan tanpa pamrih. Malam sebelum kakek meninggal, aku pulang dari kost teman hampir larut malam, waktu itu aku sedang sibuk untuk menyiapkan segala keperluanku serta teman-teman yang besoknya maju seminar proposal, kebetulan aku maju sempropnya hari rabu setelah mereka, jadi ya harus bantu mereka untuk mempersiapkan semuanya. Setelah sampai rumah, aku langsung disuruh mama untuk pergi ke kamar kakek, karena kake sedang sakit. Aku lihat kakek sedang kedinginan, akupun langsung menyelimuti kakek dengan selimut dan menghangatkannya dengan minyak kayu putih. Pada saat itu, ku sudah mikir hal yang aneh-aneh. Aku berharap, pada saat aku wisuda nanti, kakek masih bisa melihatku dan berdiri disampingku nanti. Akupun berpikir dalam hati, apa sebaiknya aku tidur sama kakek pada malam itu. Ahhh, sudahlah. Akupun mengurungkan niatku untuk tidak tidur bersama kakek pada malam hari itu. Dan nyatanya aku sungguh menyesal, kakek begitu cepatnya meninggalkan kami semua pada pagi hari itu. Dihadapan kepalaku sendiri kakek meninggal. Waktu itu hanya ada aku dan mama. Karena abah sehari sebelum kakek pergi abah berangkat ke Surabaya untuk menemui kakak kandungku yang sedang sendirian disana sama ponakanku. Kebetulan kakakku juga sendirian di rumah, suaminya sedang pergi dinas ke luar kota. Karena abah khawatir dengan keadaan kakak disana, abahpun berangkat ke Surabaya satu hari sebelum kakek meninggal. Sangat disayangkan sekali, abah untuk yang kedua kalinya tidak menghadapi kejadian seperti ini. Dulu nenek, sekarang kakek :( Tapi, untunglah pas kejadian itu, abah langsung pulang ke Banjarmasin dan masih sempat untuk menyolatkan almarhum kakek, walau tidak sempat melihat wajah kakek untuk yang terakhir kalinya. Hingga sampai saat ini kami masih merasa kehilangan kakek, andai waktu itu aku tidur di kamar bersama kakek, mungkin kakek masih bisa minta pertolongan kepadaku. Tapi, itu sama sekali tidak terjadi, karena ini sudah jadi suratan takdir untuk kami semua. Semoga kakek tenang di alam sana, karena aku yakin kakek pasti masuk surga. Karena Allah sayang kepada kakek. We Miss You Granpaa :)
We Always Love you...
Banyak sekali yang masih ingin ku ceritakan sebenarnya guys.
Mungkin lain kali. Sampai disini dulu, aku janji nanti aku bakalan cerita lagi. :)
